Wednesday, 12 June 2013

Butuh Nge-Share Ini, Urgent. Butuh Ketenangan

Assalamualaikum :)

Now, what is wrong with the name Israeli Defense Force?

Namanya bro, namanyaaa. Israeli. Defense. Force.
Defense ya? Sebentar tak cari artinya.

de·fense  

/diˈfens/

Noun
  1. The action of defending from or resisting attack.
  2. Attempted justification or vindication of something: "he spoke in defense of a disciplined approach".

Action of depending from or resisting attack. Sebuah langkah atau perlakuan dalam melindungi dari serangan. Maaf, tapi ini nonsense. Israel melindungi dari serangan? Enggak maaf. Ini bukan masalah agama yaa. Jangan salah paham, aku nggak se narrow minded itu kok ;) Tapi ini masalah kemanusiaan. Israel yang diserang Palestina? Gak masuk akal -_- Mau bukti?


Kalo kalian tanya aku percaya teori konspirasi atau enggak? Ya, aku percaya. Karena aku mau buka mata. Mungkin agak kasar, tapi... konspirasi ada dimana-mana, tujuannya macem-macem. Yah, aku cuma bisa bilang, kalian yang enggak percaya mungkin cuma pura-pura nggak peduli, menutup mata, atau punya alergi akut untuk sekadar berpikir. There are too many clues, don't be so innocent. That won't help you. Hehe

Yang penting, percaya sama Tuhan. Kita punya Tuhan. Selama kita punya Tuhan, percaya aja kalo kita aman, dalam lindungan-Nya. Yang membedakan kita sama mereka, kita lebih terhormat karena punya iman. 

Okeee... aku sebenernya takut nge-post ini. Soalnya, kalian tau gak tentang Edward Snowden? Atau malah baru denger? Gapapa. Soalnya kalo kalian tahu, kalian canggih :p Memang. Soalnya berita-beritanya ditutup-tutupin sihhhh. Tapi ada all over internet kok. 

Pokoknya intinya, apapun yang kita tulis, sms kita, siapa yang kita telepon, apa yang kita bicarakan, ternyata gak cuma kita, lawan bicara kita, sama Tuhan yang tau lhooo. Aku aja shock sampe nyebut nyebut "Astaghfirullah, Mashaa Allah," gitu. 

Tuesday, 11 June 2013

Lima Sentimeter Yang Semakin Jauh, Dan Kabur

Tengoklah sampingmu,
ke jalan sempit dari batu
Yang ditinggalkan sang pionir, waktu
Ada dia yang menunggu

Dia, yang tertawa keras tapi hampa
Dia, yang ingin marah tapi tak bisa
Dia, yang ingin menjadi luar biasa
Dia, yang hanya ingin sama hebat, seperti yang lainnya

Dia, memandang bintang di angkasa
Berkilau putih, sedih, sendirian
Dia, lalu berpikir, "Kita sama."
"Punya teman, tapi merasa kesepian."

Dia, yang berkata, "Berjuanglah."
Tapi untuk dirinya sendiripun, bingung menentukan arah
Dia, yang berjalan dalam bayangan,
Bertanya-tanya "Siapa aku gerangan?"

Dia yang bersinar bagai lilin dalam gelap
Hampir mati, tapi ingin tetap hidup juga
Dia yang jarang tidur lelap
Karena tak tahu mana lagi yang mimpi ataupun nyata

Tengoklah dia,
Melempar batu, menunggu
Dia murung tapi tertawa
Bisu tapi berlagu

Palsu
Begitu palsu
Pilu
Terlalu pilu

Dia, yang menghindar dari lampu sorot
Dia, yang merapat ke sudut ruangan
Dia, yang berdiri paling belakang
Dia, yang berusaha untuk membangun jalan,
kembali ke dunianya yang tanpa kepalsuan

Lima sentimeter itu berubah kelabu, kusam dan berdesir seperti musim dingin
Menjauh, menjauh, dan kabur seiring berjalannya waktu

Dia, yang sekarang bangkit dari duduknya dan mencari jawaban,
"Kapan musim semi itu datang?"
Lalu berlari, kembali ke jalan beraspal,
menyongsong cahaya...

What Is It?

What's so haunting about death? Is it the dark aura when someone mention it? Is it the frightening feeling it leaves? Or the uncertain position of our lives? 

Is it because people afraid of hell? Or hoping for heaven?

Or they're afraid of nonexistence? 

Maybe they're afraid of unknown condition they would face?

I'm afraid. Afraid of a lot of things. But I finally admit it. 



I'm afraid to die.

No, not now. I'm not ready yet.

Sunday, 9 June 2013

Kerang Sakura

The perfectly sculptured world of Inka Barriasta, a promising, on the rise young novelist on her mid-twenties suddenly knocked down by a terrible truth: She suffered a very rare deviation in her brain, making her memorized reality mixed with her imagination. With the encouragement from her writer pal - turned - psychiatrist Peter Bailey, she returned to her homeland from Kyoto, Japan, only to face a haunting question which could only be answered by remembering the right past. "Why were you even leave this place?"

Back to her old house with two small rooms, and a walk at the beach every morning and eve, Inka met Hanum, a mature nine years old girl, who didn't know anything about daydreams and fairytales. She spoke rationally and included facts, though she loved literature.

One day they came across an argument from which they decided to trap everyone at the village to act like stories they've read. Slowly, the adventure starts, boiled to heat, while Inka find her way to her past and her old wounds actually never recovered. Both of Inka and Hanum need time to realize that frequently, facts are  even more peculiar than fiction.

"You have to shake their hands hello before finally leave and say your goodbyes."



Heeeeey, aku lagi nulis cerita nih. rencananya, rencananya lhoo mau diterbitin. Gimana menurut kalian sinopsisnya? Penasaran gak? Kira-kira bakal bagus gak? :p

Mihihi. Sebenernya udah kepengen nulis novel dari lama. Cuma ya gitu baru ada waktu, terus baru ada ide. Jadi gimana? Comment below!

Thursday, 30 May 2013

Sedikit Percikan Cahaya

"Tempat peristirahatan Jill menghadap ke lembah. Daerah perbukitan di seberangnya dihiasi sapuan maskara berupa pohon-pohon pinus yang tumbuh di lereng-lerengnya, dan lembah kehijauan yang terhampar di bawahnya dibayangi selimut kabut tebal keperakan. 

Sementara sang pendeta melanjutkan upacara, Robin melangkah maju untuk menebarkan segenggam tanah di atas peti jenazah istrinya. Aku memalingkan wajah dan dengan mata berkaca-kaca memerhatikan batu-batu nisan di sekitar kami. Putra yang berbakti. Ayah dan kakek. Putri tunggal terkasih. Istri dan ibu tercinta. Kakak perempuan. Istri. Ibu. Ibu. 

Dalam kematian, kita tidak digambarkan oleh profesi kita maupun apa yang kita lakukan, tapi oleh apa arti diri kita bagi mereka yang dekat dengan kita.

Betapa kita mencintai dan balas dicintai."



Untuk Diingat
"Semua ada akhirnya, umat manusia bagai rumput."





Dikutip dari: I Don't Know How She Does It, oleh Allison Pearson, halaman 306, dari sudut pandang Katharine Reddy.